Wednesday, November 4, 2009

Pengobatan Baru Lemah Syahwat

Ada kabar bagus nih buat para pria yang menderita impotensi. Atau yang lebih dikenal dengan ‘lemah syahwat’. Penyakit yang konon dapat mengakibatkan hilangnya kejantanan yang memicu jatuhnya harga diri seorang pria dihadapan para wanita. Bahkan namanya saja sudah mendiskreditkan, memberi kesan mengejek dan melecehkan. Lemah syahwat. Syahwat yang lemah, tidak kuat, memble.. Syahwat pecundang.. !!.  :))

Tidak heran bila banyak penderita ‘lemah syahwat’ atau erectile dysfunction (ED) berusaha sekuat tenaga untuk mengobati penyakitnya ini. Dari mulai obat medis, jamu herbal, pijat, sampai dukun spiritual-pun rela disambangi.

Naahhhh... Sekarang anda-anda penderita ‘memble syahwat’ sudah tidak perlu khawatir lagi. sebuah tehnik pengobatan modern telah dikembangkan untuk mengatasi penyakit ‘sensitif’ kaum adam ini


Sebuah tabung mini berukuran biji beras yang ditanamkan pada daerah tulang panggul bisa membantu pria yang menderita gangguan ereksi. Tak perlu menggunakan obat-obatan seperti viagra, karena peneliti meyakinkan bahwa teknik ini jauh lebih efektif.

Aliran darah yang terhambat pada organ seks pria dianggap sebagai faktor utama penyebab impotensi. Teknik implan (penanaman) tabung atau pembuluh kecil yang terbuat dari metal ini banyak digunakan juga untuk memperlancar aliran darah pada penderita jantung yang mengalami hambatan aliran darah akibat lemak dalam darah.

Keberhasilan teknik tersebut pada penderita jantung membuat peneliti tertarik untuk mengembangkan teknik serupa bagi penderita disfungsi ereksi, yang umumnya menggunakan viagra.

Meskipun viagra dan obat-obat sejenisnya sudah digunakan lebih dari sepuluh tahun, namun tingkat keberhasilannya mengatasi masalah ED dirasa belum efektif. Diperkirakan setengah dari pria yang berumur 40 tahun ke atas mengalami masalah impotensi dan ED.

Penyebabnya bermacam-macam, mulai dari diabetes, gangguan hormon, stres dan juga depresi. Bahkan, studi terkini menemukan ada hubungan antara gangguan ereksi dengan penyakit jantung.

Layaknya jantung yang butuh suplai darah, alat kelamin pria pun demikian, terutama pada saat terdapat rangsangan. Aliran darah yang terhambat ke daerah penis bisa terjadi karena diet kurang nutrisi, merokok dan kurang olahraga. Prinsipnya sama dengan melancarkan aliran darah pada pembuluh arteri yang mengalirkan darah ke jantung.

Beberapa kardiolog percaya bahwa gangguan ereksi adalah pertanda awal penyakit jantung yang tersembunyi.

Tim dari University Hospital of Wales pun melakukan studi untuk mengetahui pengaruh implan tersebut terhadap 50 pria yang gagal mengobati penyakit disfungsi ereksinya menggunakan obat-obatan.

Pembuluh mini ditanamkan pada bagian dimana aliran darah terhambat, umumnya di bagian iliac artery yang mentransfusikan darah ke hampir setengah dari anggota badan. Dan hasilnya, peneliti menemukan efek positif dan peningkatan kemampuan ereksi penis pada partisipan.

Meskipun teknik implan ini diyakini bisa mengatasi disfungsi ereksi lebih efektif, namun para ahli lainnya khawatir dengan efek reaksi berlebih yang mungkin terjadi akibat goresan metal dalam pembuluh darah yang bisa menutup kembali aliran darah.

Untuk itu, obat pendamping pun perlu digunakan untuk untuk mengimbangi reaksi balik dari penanaman pembuluh mini dari metal tersebut.

Read more...

Wednesday, October 28, 2009

Minyak Telon dan Minyak Kayu Putih

Pernah suatu ketika saya diminta istri untuk membeli minyak gosok khusus bayi. Sebagai seorang suami yang baik dan bertanggung jawab segeralah saya meluncur ke mini market terdekat. Dengan tangkas saya mengambil sebotol minyak kayu putih yang kualitasnya paling baik (setidaknya menurut saya). Yang botol kemasannya berwarna hijau.

Sampai rumah langsung saya serahkan permintaan istri terkasih sembari berlutut di depannya, layaknya seorang pangeran menyerahkan setangkai bunga mawar pada seorang putri. “As you wish..”, ucap saya.

Istri tidak menyahut. Tidak juga mengambil minyak gosok dari tangan saya. Saya yang menunduk segera mendongak. Istri diam tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Matanya menatap wajah saya yang sedikit bingung.

Ini sih bukan minyak bayi..!”, ujarnya sambil mengambil minyak dari genggaman saya. “Ini minyak kayu putih..!!”, tambahnya.

Lha.. memangnya beda..??”, tanya saya yang mungkin terlihat o’on saat itu.

“Ya beda donk mas, dari baunya kan jelas beda. Minyak bayi itu minyak telon. Beda sama minyak kayu putih.”, tambahnya.

“oo.. ya maaf. Sini, biar diganti dengan minyak telon”.

“Nggak usah. Udah gak papa pake ini juga”. Jawab istri. Dia memang lebih senang menggunakan minyak telon untuk bayi ketimbang minyak kayu putih. “Baunya lebih enak..”, katanya ketika ditanya kenapa lebih suka minyak telon.

Naah.. dari sinilah rasa penasaran saya muncul. Apa iya minyak bayi itu bukan minyak kayu putih. Bagi saya koq terlihat sama ya.

Yuk.. mari kita lihat lebih jauh perbedaan minyak telon bayi dengan minyak kayu putih. Yah.. siapa tau anda-anda para pria dan suami muda juga mendapat permintaan yang sama dari istri. Diminta untuk membeli minyak telon bayi. Kan peristiwa di atas tidak terulang pada anda. Haha..

Minyak telon. Pertama kali mendengar namanya saja saya merasa asing. Aneh. Koq ya ada orang yang memberi nama ‘telon’.

Pada umumnya nama minyak-kan berasal dari nama sumber asal-nya. Minyak kayu putih, jelas berasal dari kata ‘kayu putih’. Nama tanaman asal minyak tersebut.
Minyak cendana juga berasal dari nama tanaman penghasil minyak tersebut. Kayu Cendana.
Minyak sereh dari tanaman sereh.
Minyak cengkeh, minyak melati, dan lainnya.

Lha kalau minyak telon? Apa berasal dari tanaman telon..? Atau bunga ‘telon’..?

Ternyata kata ‘telon’ bukan nama sejenis tanaman, kayu,atau bunga. ‘Telon’ merupakan bahasa jawa untuk ‘tiga’. Ya.. ‘tiga’ yang itu!!.
Satu.. dua.. tiga.

Hal ini karena minyak telon terdiri dari tiga bahan utama. Minyak kayu putih, minyak adas, dan minyak kelapa. Karena campuran dari tiga bahan inilah maka diberi nama telon yang berarti tiga.

Aroma khas bayi pada minyak telon berasal dari aroma minyak adas. Minyak yang ditambahkan untuk mengatasi perut kembung. Semakin kuat aroma bayi, semakin banyak campuran minyak adas pada minyak telon. Sementara minyak kelapa ditambahkan sebagai pelembut. Minyak kayu putih mempunyai aroma yang kuat dan rasa yang panas. Karena kulit bayi masih sensitif maka ditambahkan minyak kelapa sebagai pelembut dan pelumas. Bila kandungan minyak kelapa terlalu banyak, minyak telon akan terasa lengket.

Yang perlu diperhatikan adalah expire date. Minyak kelapa mudah teroksidasi dengan udara. Dan seiring waktu minyak menjadi tengik dan mempengaruhi aroma minyak telon.

Naah.. ternyata memang benar minyak telon berbeda dengan minyak kayu putih.

"Oh istriku.. lain kali kalau diminta membeli minyak bayi, suamimu ini tak akanlah salah lagi. hehe.."

Semoga artikel ringan ini bisa membantu anda untuk membedakan minyak telon dan minyak lainnya.

Oh ya, tambahan informasi lagi. sekarang ini minyak telon sudah dicampur dengan minyak sereh. Hal ini membuat minyak telon selain sebagai minyak gosok untuk mengobati kembung dan pemberi rasa hangat, juga bermanfaat sebagai minyak pengusir nyamuk.


Read more...

Wednesday, October 21, 2009

UU Lalulintas No 22 tahun 2009; Belok Kiri Tidak Boleh Langsung

Pada perempatan jalan, para pengguna kendaraan dapat langsung belok kiri meskipun saat itu lampu lalulintas menunjukkan warna merah. Hal ini tentunya sudah diketahui secara umum.

Naahh... sekarang ini hal itu tidak diperbolehkan. Dalam undang-undang lalulintas baru no 22 tahun 2009, belok kiri tidak boleh langsung. Harus mengikuti lampu lalulintas. Bagi pelanggar akan ditilang dan dikenakan denda sebesar 250 ribu rupiah.

Undang-undang baru ini memang dibuat untuk menggantikan undang undang lalulintas sebelumnya, pada undang undang yang lama (UU no 14 tahun 1992), kendaraan yang akan belok kiri pada persimpangan jalan diperbolehkan untuk terus jalan. Undang-undang yang baru hal tersebut dianggap melanggar dan ditilang.

Selain itu besarnya denda bagi pelanggaran lalulintas juga mengalami kenaikan. Secara rata-rata denda tilang pada undang-undang baru naik 4 kali lipat dari undang-undang yang lama.

Peraturan ini memang belum disosialisasikan. Namun perubahan ini sudah final dan pasti. Dalam waktu dekat akan diterapkan di lapangan. Oleh karena itu mulai saat ini harap diingat baik-baik bahwa belok kiri tidak boleh langsung. Jangan sampai anda di ‘peras’ oleh para oknum polisi karena kekurang hati-hatian..

Read more...

Tuesday, October 20, 2009

Prinsip Dasar Spektrofotometer Visible

Dalam dunia analisis kimia dikenal suatu alat yang bernama Spektrofotometer visible. Alat ini berdasar hukum Lambert-beer.

“Jumlah radiasi yang diserap proporsional dengan ketebalan sel (b), konsentrasi analit (c), dan koefisien absorptivitas molekuler (a) dari suatu spesi (senyawa) pada suatu panjang gelombang

Kalimat di atas terlihat sulit untuk dipahami. Dan memang sulit. Biasanya orang tidak mudah untuk mencermati dan memahami tiap kalimat pada hukum Lambert-beer (LB). Belum lagi istilah-istilah yang asing dan tidak biasa bagi kebanyakan orang. Plus persamaan-persamaan yang rumit dan njelimet.

Pada artikel kali ini saya akan menjelaskan sesederhana mungkin. Keluar dari belenggu teoritis dan matematis. Saya menitikberatkan pada prinsip aplikasi alat spektrofotometer ketimbang dasar teori yang melandasi. Istilah asing seperti ‘koefisien absorptivitas molar’, formula hubungan ketebalan media dengan intensitas sinar, tidak akan saya jelaskan detail. Saya mencoba menjelaskan secara sederhana prinsip dasar dari alat spektrofotometer visible (spektro-vis).

Logika prinsip dari alat spektro-vis adalah intensitas warna dari suatu larutan sebanding dengan jumlah cahaya yang serap. Semakin pekat warna, semakin banyak cahaya yang di serap.

Sekarang anda bayangkan sebuah gelas. Gelas tersebut di isi dengan air mineral yang jernih. Kemudian anda lewatkan seberkas sinar melalui gelas tersebut, misalnya dengan lampu senter. Cahaya sinar lampu senter akan lewat dengan mudah bukan..? menembus melalui gelas.

Sekarang coba anda ganti isi air mineral dengan air sirup yang berwarna, katakanlah coklat (sirup rasa coklat). Sekarang coba anda lewatkan cahaya lampu senter melalui gelas tersebut. Apa yang terjadi..? Sinar sulit melewati air sirup berwarna. Memang ada yang lewat, tapi tidak semuanya. Sebagian sinar ada yang di serap oleh warna coklat sirup.

Semakin pekat warna pada sirup, sinar lampu senter akan semakin sedikit yang menembus gelas. Dengan kata lain semakin banyak cahaya yang diserap. Jumlah cahaya yang di serap berbanding lurus dengan intensitas warna. Hal inilah yang mendasari pengukuran spektro-vis.

Pengukuran kuantitatif

Apabila anda mempunyai larutan dengan deret warna yang semakin pekat. Kemudian anda mengukur absorbasinya (jumlah cahaya yang diserap). Maka akan didapatkan suatu kurva linier. Jumlah cahaya yang diserap semakin banyak seiring dengan intensitas warna yang semakin pekat. Deret warna ini dalam dunia analisis kimia di sebut sebagai deret standar. Dan jika suatu larutan telah diketahui absorbansinya, maka konsentrasinya-pun dapat diketahui dengan membandingkan terhadap deret standar. Inilah prinsip dasar pengukuran konsentrasi menggunakan spektro-vis.


Limitasi dalam Spketro-Vis

Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah. Pada konsentrasi yang terlalu pekat, kurva deret standar menjadi tidak linier. Biasanya konsentrasi di atas 0.1 M. Hal ini karena pada konsentrasi yang tinggi, jarak antar partikel zat menjadi sangat rapat. Hal ini akan mempengaruhi distribusi muatan, dan mengubah cara molekul melakukan serapan. Oleh karena itu terkadang pada konsentrasi terlalu tinggi kurva tidak linier. Itulah sebabnya pada pembuatan deret standar, absorbansi dianjurkan tidak melebih 1. Jadi absorbansi deret standar ada di dalam range 0-1.


Perbedaan kuvet sangat berpengaruh. Harap selalu gunakan satu kuvet yang sama untuk mengukur absorbansi. Apabila anda terlibat dengan sample yang jumlahnya banyak, dan anda menggunakan kuvet disposable, gunakan kuvet maksimal tiga kali pemakaian. Setelah itu pakai kuvet baru.

Terkadang senyawa analat mengalami reaksi kimia yang lambat dan memerlukan waktu untuk mencapai kesetimbangan. Hal ini menyebabkan penyimpangan yang signifikan bila pembacaan absorbansi tidak dilakukan bersamaan.

Lakukan pengukuran absorbansi pada panjang gelombang maksimal. Jangan sungkan untuk mencari terlebih dulu pada panjang gelombang berapa sample memberikan absorbansi maksimal. Hal ini untuk meningkatkan sensitifitas analisa.

Read more...

Uji Benedict, Uji Gula Pereduksi (Kualitatif)

Uji benedict adalah uji kimia untuk mengetahui kandungan gula (karbohidrat) pereduksi. Gula pereduksi meliputi semua jenis monosakarida dan beberapa disakarida seperti laktosa dan maltosa.

Nama Benedict merupakan nama seorang ahli kimia asal Amerika, Stanley Rossiter Benedict (17 Maret 1884-21 Desember 1936). Benedict lahir di Cincinnati dan studi di University of Cincinnati. Setahun kemudian dia pergi ke Yale University untuk mendalami Physiology dan metabolisme di Department of Physiological Chemistry.


Pada uji Benedict, pereaksi ini akan bereaksi dengan gugus aldehid, kecuali aldehid dalam gugus aromatik, dan alpha hidroksi keton. Oleh karena itu, meskipun fruktosa bukanlah gula pereduksi, namun karena memiliki gugus alpha hidroksi keton, maka fruktosa akan berubah menjadi glukosa dan mannosa dalam suasana basa dan memberikan hasil positif dengan pereaksi benedict.

Satu liter pereaksi Benedict dapat dibuat dengan menimbang sebanyak 100 gram sodium carbonate anhydrous, 173 gram sodium citrate, dan 17.3 gram copper (II) sulphate pentahydrate, kemudian dilarutkan dengan akuadest sebanyak 1 liter.

Untuk mengetahui adanya monosakarida dan disakarida pereduksi dalam makanan, sample makanan dilarutkan dalam air, dan ditambahkan sedikit pereaksi benedict. Dipanaskan dalam waterbath selamaa 4-10 menit. Selama proses ini larutan akan berubah warna menjadi biru (tanpa adanya glukosa), hijau, kuning, orange, merah dan merah bata atau coklat (kandungan glukosa tinggi).

Sukrosa (gula pasir) tidak terdeteksi oleh pereaksi Benedict. Sukrosa mengandung dua monosakrida (fruktosa dan glukosa) yang terikat melalui ikatan glikosidic sedemikian rupa sehingga tidak mengandung gugus aldehid bebas dan alpha hidroksi keton. Sukrosa juga tidak bersifat pereduksi.

Uji Benedict dapat dilakukan pada urine untuk mengetahui kandungan glukosa. Urine yang mengandung glukosa dapat menjadi tanda adanya penyakit diabetes. Sekali urine diketahui mengandung gula pereduksi, test lebih jauh mesti dilakukan untuk memastikan jenis gula pereduksi apa yang terdapat dalam urine. Hanya glukosa yang mengindikasikan penyakit diabetes.

Read more...

Uji Kualitatif Karbohidrat

Karbohidrat adalah polisakarida, merupakan sumber energi utama pada makanan. Nasi, ketela, jagung adalah beberapa contoh makanan mengandung karbohidrat.

Penyusun utama karbohidrat adalah karbon, hidrogen, dan oksigen (C, H, O) dengan rumus umum Cn(H2O)n. Karena inilah maka nama karbohidrat diberikan. Karbohidrat berasal dari kata ‘karbon’ dan ‘hidrat’. Atom karbon yang mengikat hidrat (air).

Meskipun beberapa saat kemudian diketahui bahwa hidrogen dan oksigen berikatan bukan sebagai air, namun kata karbohidrat sudah terlanjur meluas dan tetap digunakan sampai sekarang.

Terdapat beberapa cara uji kimia untuk mengenali dan mengetahui adanya kandungan karbohidrat pada makanan (sample).


1. Uji Molisch

Prinsip reaksi ini adalah dehidrasi senyawa karbohidrat oleh asam sulfat pekat. Dehidrasi heksosa menghasilkan senyawa hidroksi metil furfural, sedangkan dehidrasi pentosa menghasilkan senyawa fulfural. Uji positif jika timbul cincin merah ungu yang merupakan kondensasi antara furfural atau hidroksimetil furfural dengan a-naftol dalam pereaksi molish. Uji ini untuk semua jenis karbohidrat. Mono-, di-, dan polisakarida akan memberikan hasil positif.

Cara kerja: sebanyak 5 ml larutan yang di uji (glukosa, fruktosa, sukrosa, laktosa, maltosa, dan pati) dimasukkan ke dalam tabung reaksi, lalu ditambahkan 2 tetes pereaksi molish (5% a-naphtol dalam 95% etanol), dicampur rata, kemudian ditambahkan 3 ml asam sulfat pekat secara perlahan-lahan melalui dinding tabung, warna violet (ungu) kemerah-merahan pada batas kedua cairan menunjukkan reaksi positif, sedangkan warna hijau menunjukan reaksi negatif.

2. Uji Benedict

Uji benedict merupakan uji umum untuk karbohidrat (gula) pereduksi (yang memiliki gugus aldehid atau keton bebas), seperti yang terdapat pada glukosa dan maltosa. Uji benedict berdasarkan reduksi Cu2+ menjadi Cu+ oleh gugus aldehid atau keton bebas dalam suasana alkalis, biasanya ditambahkan zat pengompleks seperti sitrat atau tatrat untuk mencegah terjadinya pengendapan CuCO3. Uji positif ditandai dengan terbentuknya endapan merah bata, kadang disertai dengan larutan yang berwarna hijau, merah, atau orange.

Cara kerja: sebanyak 5 ml reaksi Benedict dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 8 tetes larutan bahan yang diuji dicampur rata dan dididihkan selama 5 menit, biarkan sampai dingin kemudian diamati perubahan warnanya, jika terbentuk warna hijau, kuning atau endapan merah bata berarti positif.

3. Uji Seliwanof

Uji seliwanoff bertujuan untuk mengeahui adanya ketosa (karbohidrat yang mengandung gugus keton). Pada pereaksi seliwanoff, terjadi perubahan oleh HCl panas menjadi asam levulinat dan hidroksilmetil furfural. Jika dipanaskan karbohidrat yang mengandung gugus keton akan menghasikan warna merah pada larutannya.

Cara kerja: 5 ml peraksi dan beberapa tetes bahan percobaan dimasukkan ke dalam sebuah tabung reaksi, lalu dididihkan selama 30 detik, kemudian diamati warna yang terjadi.

4. Uji Iod

Pada uji iodine, kondensasi iodine dengan karbohidrat, selain monosakarida dapat menghasilkan warna yang khas. Amilum dengan iodine dapat membentuk kompleks biru, sedangkan dengan glikogen akan membentuk warna merah. Oleh karena itu uji iod ini juga dapat membedakan amilum dan glikogen.

Cara kerja:
pada papan uji diteteskan bahan yang akan diuji, kemudian ditambahkan dengan satu tetes iodium encer, dan dicampur merata.

Read more...

Monday, September 28, 2009

Mudik: Napak Tilas Kaum Urban


Hari ini hari pertama kembali pada rutinitas kerja. Kembali pada suasana sumpek dan semrawut kota Jakarta. Kembali pada kesunyian di tengah-tengah hiruk pikuk keramaian kota, di tengah ribuan manusia asing yang tak (mau) dikenal. Entah berapa lama nuansa kesegaran desa dan kampung halaman bertahan menghadapi ibu kota Jakarta ini.

Idul fitri kali ini, 1430 H. Merupakan hari raya pertama yang saya jalani sebagai seorang yang sudah berkeluarga. Dengan status baru ini, ritual mudik tetap dijalani. Pengaturan jadwal silaturahim menjadi lebih padat. Diatur sedemikian rupa agar pembagian kunjungan adil dan seimbang antara keluarga orang tua dan keluarga istri. Lelah namun bahagia.

Mudik merupakan fenomena hari raya yang hanya terjadi di Indonesia. Kondisi sentralisasi negara ini menjadikan ibukota sebagai tujuan utama para pencari penghidupan. Arus Urbanisasi tak terbendung. Kaum urban yang telah bertahun-tahun menetap dan menjelma menjadi masyarakat kota memanfaatkan moment idul fitri dan libur panjang untuk kembali menjenguk kampung halamannya. Silaturahim dengan keluarga di desa sekaligus mengenang dan mengingat asal usul mereka. Eksodus jutaan manusia meninggalkan ibukota keluar menuju ke kampung halaman bagai arus balik urbanisasi yang fenomenal. Walau hanya sesaat. Karena setelah musim mudik usai. Jutaan manusia tersebut kembali berbondong menuju ibukota.

Banyak yang memandang negatif kegiatan ini. Mereka beralasan mudik hanya aktivitas pemborosan tenaga, biaya, dan waktu.

Saya membaca satu artikel ulasan mudik yang apik. Saya tulis ulang artikel tersebut.

Mudik, Memasuki Time Tunnel
Oleh: Djoko Suud Sukahar


Jakarta - Hari-hari ini eksodus besar-besaran terjadi di kota. Jutaan orang berserak memenuhi jalanan. Dengan berbagai gaya dan sarana mereka pergi secara bersamaan. Akibatnya tidak hanya terminal, bandara dan stasiun yang sesak, tetapi juga jalan raya. Motor dan mobil dipacu tak istirah, dengan satu tujuan mudik ke kampung halaman. Ini ritus laten yang berlangsung tiap tahun.

Lebaran kian dekat, dan ritus macam itu juga terus terulang. Tidak ada yang merasa jenuh dan lelah menjalani. Suasana riuh-rendah dan crowded di mana-mana menjadi kenikmatan. Di hari menjelang Idul Fitri ini berjubel dalam antrean dan berarak ‘tak beraturan’ di tengah kemacetan bukan lagi beban.

Semua sukacita. Itu bukan prerogatif yang mapan dan kecukupan. Saudara-saudara kita yang tertimpa musibah gempa juga menyambut hari itu dengan batin yang sama. Itu karena di Idul Fitri ini keluarga yang terberai bertemu. Dan suka maupun duka menyatu dalam kisah yang melodramatik.

Menjelang lebaran situasi gabah diinteri memang bukan gambaran suram. Itu seperti surga yang lama dinanti-nanti. Tak hanya sebagai perayaan di hari kemenangan setelah berpuasa, tapi juga sebagai hari untuk berkaca diri dan melihat masalalu. Sekarang inilah saatnya pemudik memasuki ‘time tunnel’. Melakukan napak tilas, memutar ulang jalan setapak dari proses panjang sebuah perjalanan.

Suasana syahdu itu yang terbayang. Beban itu yang tersandang. Menumpuk di sebuah bab dalam buku catatan kegagalan dan keberhasilan dari orang-orang yang berasal dari desa itu. Diary ini tidak pernah dibuka dan tidak pernah diungkap. Kota yang kompetitif membuat semuanya soliter. Hidup sendiri. Langka manusia solider. Tak banyak yang rela berbagi telinga untuk mendengar kisah yang lain.

Di desa, telinga dan anggukan kepala melimpah. Kisah romantis dari kota, betul atau karangan, diamini setulus hati. Mereka bangga warganya berhasil di ‘negeri seberang’. Mereka respek dengan keberanian serta kegigihan siapa saja yang berhasil ‘menaklukkan’ kota besar. Bagi warga desa tidak ada lawan atau kompetitor. Yang ada, semuanya saudara, teman dan handai taulan.

Suasana yang memberi ruang untuk berbagi suka dan duka itu yang lama diidamkan. Salah dan benar tidak disoal, melebur dalam fitrah. Kalau salah dimaafkan,
syukur-syukur benar. Di desa manusia kembali ke asal. Alpa atau sadar semuanya dikemas jadi fitri, tanpa noda. Itu karena sikap tanpa pamrih dan apresiasi terhadap nilai-nilai kemanusiaan tetap menjadi soko guru masyarakatnya.

Suasana seperti itu yang paling mahal. Betapa kerinduan terhadap kampung halaman telah mengisi relung tersendiri dalam hati kecil tiap individu. Itu yang sering menggugah alam bawah sadar untuk kembali diputar ulang dan dikisahkan berulang-ulang. Tapi bagaimana mungkin ‘siksa’ menjadi surga hanya sekadar untuk berbagi kisah dan menengok masalalu di desa?

Ada seorang teman yang punya kebiasaan unik tatkala menjelang lebaran tiba. Menunggu berbuka puasa dia ‘ngabuburit’ di terminal. Melihat riuh orang mudik, dan mengamati ‘fashion pemudik’ dengan gaya khasnya membawa dos-dos besar terpanggul di pundak.

Menyaksikan para pemudik itu ‘perang’ berebut naik bus berjejal-jejalan, tiba-tiba airmata sang teman itu meleleh. Mulutnya mendesis pelan, dan dari mulutnya terlontar dzikrullah berulang-ulang. Allah, Allah, Allah, Alhamdulillah ya Allah !

Adakah asma Allah itu ditujukan untuk mendoakan agar sang pemudik selamat sampai tujuan? Ataukah itu lontaran belas kasih terhadap pemudik yang ‘kalah perang’ berjuang memperbaiki taraf hidup di perkotaan?

“Bukan, saya justru rindu menjadi mereka. Saya terharu dengan spirit mereka pulang kampung di hari raya Idul Fitri. Entah, saban tahun saya tak kuasa untuk tidak menangis melihat pemandangan itu. Adakah ini karena saya orang kota yang sudah kehilangan keluarga masalalu saya di desa?”

Subhanallah ! Pulang kampung memang surga. Selamat berlebaran di desa, saudaraku !

Read more...

Thursday, September 24, 2009

Mohon Maaf Lahir Batin..


Masih dalam suasana lebaran. Saya mengucapkan selamat idul fitri 1430 H. Mohon maaf bila ada kata-kata dalam artikel di blog ini yang kurang berkenan dan menyinggung perasaan.

Ini bukan hanya ucapan formalitas lebaran saja. Yang sekedar ucapan 'penggugur kewajiban' tanpa diresapi dan sambil lalu. Yang secara spontan diucapkan ketika bertemu dengan kawan dan tetangga.

Bersalaman, 'minal aidzin wal faidzin', tersenyum, kemudian berlalu begitu saja. Semuanya dilakukan tanpa kesadaran bahwa saat itu kita sedang meminta maaf dan menyesali atas semua kesalahan yang pernah dan mungkin terjadi. Semuanya terjadi tanpa ada peresapan makna bahwa saat itu kita sedang memberikan maaf ikhlas atas semua tindakan dan kesalahan yang orang lain lakukan. Semuanya sekali lagi hanya formalitas dan tindakan rutinitas lebaran belaka. Seperti yang saat ini umum terjadi.

Sekali kali tidak. Saya secara sungguh-sungguh meminta maaf, secara sadar memohon di bukakan pintu maaf. Bila ada kata-kata dalam blog ini yang menyinggung dan menyakiti.


Sekali lagi, selamat idul fitri 1430 H, mohon maaf lahir dan batin..


Read more...

Wednesday, September 16, 2009

Streaming CCTV Jalur Mudik Pantura dan Selatan

Bagi saudara semua yang akan melaksanakan mudik entah itu dengan mobil atau sepeda motor, harus memilih jalur mudik untuk menghindari kemacetan dan hambatan lainnya. Berikut saya berikan link streaming CCTV yang di pasang di beberapa titik di sepanjang jalur mudik di pulau jawa. Semoga bermanfaat.


http://rttmc-hubdat.web.id/rttmc2009/kamera/kamera-peta.htm

Read more...

Friday, August 14, 2009

Efisiensi Sistem Denda Tilang

Seorang kawan baru saja pulang dari tugas luar kota. Di pesawat dia terlibat percakapan menarik dengan seorang penumpang. Berikut cerita kawan saya, sengaja saya menggunakan kalimat langsung orang pertama agar lebih mudah dibaca dan dimengerti.


Di dalam pesawat saya langsung duduk. Di sebelah saya seorang bapak berpakaian batik rapi dan necis. Sekilas wajahnya tampak familiar, tapi saya tak dapat mengingat dimana pernah melihatnya.

Setelah duduk saya mengeluarkan isi saku jaket sekedar merapikan. Karcis tol, tiket pesawat, uang, struk belanja alfamart dan ah ya.. surat tilang. ‘Surat cinta’ dari pak polisi tadi pagi. Sangat menyebalkan.

“Surat tilang..??!”, Bapak berbatik di sebelah saya bertanya dengan senyum manisnya.

Ya. Tadi saat ke bandara buru-buru sampai lupa memakai seat belt”.

Ah ya.. hal yang sering terjadi. Jadi.. Mas-nya lebih memilih untuk di tilang dan ikut pengadilan ketimbang membayar di tempat??, haha.. warga yang baik”.

Saya tidak menjawab. Tak yakin apakah dia tulus atau hanya pernyataan sarkastik belaka.


Tak lama kemudian pesawat lepas landas.

“Sistem yang amat tidak efisien..!!”, Bapak berbatik tiba-tiba bicara setelah hening sesaat.

Apa??”

Itu. Coba pikir, Mas tidak menabrak mobil lain. Tidak melukai orang lain. Tidak mabuk, dan tidak membahayakan orang lain. Mas hanya lupa menggunakan seat belt. Kesalahan kecil yang tak disengaja. Tapi mereka tetap menahan SIM dan Mas harus ke pengadilan untuk membayar denda dan mendapatkan SIM kembali.

Bayangkan berapa banyak orang yang harus terlibat. Polisi harus memproses surat tilang tersebut, kemudian menyerahkannya ke pengadilan, di pengadilan akan semakin banyak orang yang ‘direpotkan’ dan sibuk menyelesaikan berkas-berkas dan urusan administratif lainnya.

Semua orang ini. Sibuk menggeluti sebuah kertas, menghabiskan banyak waktu dan tenaga Untuk apa? Semuanya hanya karena Mas lupa memakai seat belt”.

Bapak itu benar. Saya bahkan tidak berpikir sejauh itu.

“Akan dimengerti jika Mas melakukan suatu kesalahan serius. Namun hanya karena lupa menggunakan seat belt, melanggar marka jalan, salah berputar.. apakah perlu sampai pergi ke pengadilan dan ‘membuang’ waktu semua orang??. Bayangkan semua produktivitas yang hilang. Sekarang Mas harus ke pengadilan dan berada di sana seharian penuh. Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk bekerja dan kegiatan produktif lainnya”.

“Benar. Lalu apa saran Bapak?”, saya bertanya padanya. Penasaran apa pendapat Bapak sebelah saya itu.

“Idealnya, mereka tidak menahan SIM milik Mas. Hanya memberikan surat tilang dan membiarkan Mas pergi. Mas bisa membayar tilang di Bank manapun, dan selesai. Seharusnya simple saja. Tidak perlu harus berlarut-larut”.

“Tapi..”, Bapak berbatik melanjutkan, “Apakah Mas tau apa yang terjadi kalau hal seperti tadi dilakukan?”

“Sebagian orang akan tidak peduli dan tidak mau membayar denda”, sambar saya.

“Tepat! Dan kenapa bisa begitu?”, tanya Bapak berbatik. Senang karena saya mau mengikuti ‘permainannya’ sejauh ini.

“Karena polisi tidak mempunyai alat untuk memaksa kita membayar. Alasan polisi menahan SIM saya adalah agar saya mau membayar denda tilang”.

“Betul! Tapi bukankah polisi mencatat no kendaraan dan bisa melacak bila Mas tidak mau membayar denda?”.

“Ya, tapi tidak semua kendaraan ter-registrasi dengan nama pemiliknya. Kendaraan saya contohnya. Saya membelinya second dari tangan kedua, dan belum balik nama. Masih atas nama pemilik sebelumnya. Maka jika polisi melacak kendaraan saya, yang mereka dapat adalah nama pemilik sebelumnya”.

“Tepat. Kita semakin dekat dengan akar masalah. Sekarang.. kenapa Mas-nya tidak segera balik nama dan meregistrasi kendaraan atas nama sendiri?”.

“Hmm.. sebetulnya lebih karena biaya yang mahal.. dan teman-teman bilang kalau prosesnya sangat birokratik. Sejujurnya, saya belum pernah melakukan hal-hal seperti itu sendiri”.

“Maka kita harus membuatnya menjadi lebih MUDAH.. dan MURAH..”.

“Sulit dilakukan. Pemerintah ingin mendapat pemasukan sebesar mungkin”, jawab saya.

“Ah.. anak muda. Coba lihat seperti ini. Katakanlah pemerintah membuat proses registrasi balik nama menjadi sangat mudah, hanya 10 menit. Dan biaya dipangkas setengahnya. 50 %. Saya berani bertaruh, orang yang merubah nama kepemilikan kendaraannya akan bertambah signifikan. Mungkin tiga kali lipat. Potong biaya setengahnya, dan pemerintah akan mendapat tiga kali lipat. Dan sebetulnya pemerintah akan mendapat lebih banyak lagi.

Jika semua kendaraan telah ter-registrasi atas nama pemilik sesungguhnya, maka jika ada kasus tidak membayar denda tilang, kepolisian akan dapat melacak mereka melalui no kendaraan, dan memberikan denda berkali lipat. Tambahan uang untuk pemerintah”.

Saya mengangguk. Masuk akal.

Bapak tersebut meneruskan.

“Dengan uang lebih, kita dapat menggunakan sebagian untuk memperbaiki kesejahteraan bapak-bapak polisi kita. Mereka ini bekerja siang malam di jalanan penuh polusi. Juga penuh bahaya. Dengan uang tersebut juga kita dapat melakukan perbaikan peralatan kepolisian. Alat komunikasi lebih canggih, komputer, kamera, mobil yang lebih baik, dan motor. Pada akhirnya mereka akan bekerja lebih baik dan mampu menangkap lebih banyak pelanggar lalu lintas dan membawa lebih banyak rupiah pada pemerintah.

Dan kita. Sebagai warga masyarakat. Bila melakukan pelanggaran dan terpaksa harus membayar denda tilang, akan dengan senang hati membayar karena:
Satu, kita tidak perlu membuang waktu dengan pergi ke pengadilan, dan kedua, kita tau pasti bahwa uang yang kita bayarkan akan betul-betul masuk ke negara bukan ke kantong-kantong pribadi para oknum polisi guna memperbesar perut mereka.

Kepolisian dan pengadilan juga akan senang. Sedikit kasus tilang, berarti semakin banyak waktu untuk mengerjakan kasus-kasus yag lebih penting, seperti korupsi contohnya”.

“Kedengarannya bagus”, kata saya. “Lalu kenapa hal itu tidak segera dilakukan?, kenapa kita masih saja terjebak dengan sistem yang tidak efisien ini?”.

“Coba pikir seperti ini. Ini seperti fenomena reformasi kita”.

“Reformasi?”

“Ya. Sebelum kita mendapatkan reformasi, sebagian orang sangat nyaman dibawah Soeharto. Mereka banyak mendapat harta. Membangun lebih banyak bisnis dan mendapat lebih banyak uang. Maka, ketika Soeharto turun, mereka resistant. Hidup sudah bagus, kenapa di rubah?? Ini dapat dimengerti. Mereka tidak ingin kehilangan investasinya, bisnisnya, semuanya yang telah diperoleh di masa Soeharto.

Persis sama dengan yang terjadi pada sistem perundangan lalulintas kita. Kita perlu membuka mata mereka. Kita perlu meminta mereka, jikapun dengan memaksa seperti pada reformasi kita!!. Suatu mimpi yang indah bukan?”.

“Ya..”, jawab saya.

Orang tua yang sangat mempesona.

(Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan RI. Mencoba memberi alternatif ide untuk memperbaiki negara tercinta ini)



Artikel terkait : Undang-undang pelanggaran lalulintas No 14 tahun 1992

Read more...